
Desa Somlain yang berada di kecamatan Kei Kecil Barat, Kabupaten Maluku Tenggara, menjadi saksi bisu tragedi ganasnya laut, puluhan tahun silam.
13 September 1985, 47 warga desa somlain bertolak ke desa tanimbar kei, guna mengikuti acara keagamaan. Namun naas, belum sempat menginjakan kaki di desa tersebut kapal yang ditumpangi warga terhempas ombak hingga terbalik dan menewaskan hampir seluruh warga yang ikut dalam pelayaran tersebut.
Salah satu keluarga korban, Gerry Ngamel, yang saat itu masih berada dalam kandungan sang ibunda tercinta, menceritakan kisah pahit yang membawa pergi sang ayah dan kakak tercinta.
"Waktu itu saya masih dalam kandungan, tragedi itu merenggut ayah dan kakak kandung saya, beserta 45 orang warga lainnya. Mereka hendak ke desa tanimbar kei untuk mengikuti kegiatan keagamaan yang didampangi Pastor Paroki kami, sayangnya ditengah perjalanan, kapal motor kayu yang ditumpangi mengalami kecelakaan, dan terbalik, hingga menewaskan hampir seluruh warga yang ikut berlayar saat itu. Cerita ini saya denfar langsung dari ibu dan keluarga saya sepanjang hidup saya."
Gerry menceritakan bagaimana terpuruknya masyarakat desa somlain saat mengetahui tragedi tersebut. Hampir 95% dari warga yang pergi saat itu ditemukan meninggal dan ada juga yang tidak ditemukan hingga saat ini. Salah satu korban selamat yaitu Pastor Paroki Ohoidertutu, Romo Yopi Samakut, ditemukan warga desa tanimbar kei, yang akhirnya mengetahui kejadian tersebut.
Usaha pencarian dilakukan oleh masyarakat desa tanimbar kei dan desa somlain, dengan peralatan seadanya. Tetapi karna situasi laut yang tidak bisa ditebak, tidak semua korban ditemukan. Lebih banyak ditemukan meninggal dunia, dan selebihnya dinyatakan hilang hingga saat ini.
Gerry menjelaskan, cerita ini menjadi salah satu kisah kelam yang harus terus diingat oleh warga masyarakat desanya. Hingga Pada suatu masa dibangunlah Tugu Peringatan Perahu Gerhana dilokasi pantai Ohoi Raan atau desa lama, guna mengingat kisah pilu dan kehilangan oleh para keluarga, yang berdiri hingga saat ini.
Bagi Gerry, sebagai masyarakat asli desa somlain, tragedi itu tidak hanya akibat alam yang tidak bersahabat, tetapi juga menunjukan kebesaran kuasa Tuhan, akan penjagaan dan takdir yang digariskan.
"Masyarakat desa tidak pernah mengutuk tragedi itu. Kami sadar sepenuhnya bahwa itu adalah takdir, diluar kondisi alam yang tidak bersahabat. Tetapi iman kepercayaan kami memgajarkan bahwa yang menjadi milik Allah, akan kembali padaNya."
Gerry berharap, dengan adanya Tugu Perahu Gerhana di desa somlain, akan terus menjadi pengingat kepergian para warganya dalam niat beribadah dan betapa besar kuasa Tuhan dalam mengatur kehidupan manusia. Sekalipun meninggalkan luka yang mendalam bagi keluarga korban hingga saat ini, terselip kebanggaan tersendiri, karena mereka "pergi" saat menjalankan niat suci untuk Sang Pencipta.
